Tiang Bendera

Seperti biasa Kawis selalu berangkat pagi-pagi agar tidak ketinggalan bus pertama pagi itu. Jarak antara kota Bendera dengan kota Tiang memang tidak terlampau jauh, hanya butuh sekitar 15 menit saja. Tetapi perjalanan dari Kota Tiang ke Kota Bendera begitu menegangkan baginya. Hampir saja adrenalin Kawis memuncak hingga hendak meletupkan bilik jantungnya saat Kawis melewati suatu rumah dipinggiran jalan Kota Bendera. Sebuah rumah yang sederhana tetapi menyimpan makna yang dalam bagi Kawis. Mata Kawis seakan tak mau lepas dari bilik rumah tersebut, dan Kawis berharap Laela berada didepan bilik untuk hinggap di bus yang sama pagi ini. Baca lebih lanjut

Pujangga Itu Telah Mati

 

 

 

 

 

Malam petang menutup hati
Saat dunia telah tenggelam dalam kesunyian
Ku terjaga dari tidur normalku
Melihat kembali kejadian semalam

Tak kusangka sudah lama berlalu
Kisah sedih yang tak ingin kukenang
Seoorang Pujangga yang terbunuh oleh angannya
Angan yang memutari lehernya dan akhirnya mencekiknya

Siapakah dia dibalik angan itu… Baca lebih lanjut

Bukan Akhir

 

 

 

 

 

 

Ini bukan akhir perjalanan..

Tatkala panas matahari menyengat jasad

Badai dan hujan menghujam kedalam jiwa

Dan mungkin masih ribuan rintangan yang kan dihadapi

Jutaan penyesalan hampiriku

Tatkala aku lihat dirimu terbang seorang diri

lewati bentangan rintangan yang tak berujung

Inginku jadi sayapmu atau kuatkanmu

Tetapi apa daya, tangan ini kan terus tebelenggu Baca lebih lanjut

Kacamata Coret

Saya pernah ditanya pada seseorang, “Kenapa Anda tidak buat cerita, tulisan, puisi, atau apalah. Karena saya lihat kadang-kadang kata-kata Anda bisa menyejukkan jiwa.”

Saya pada waktu itu tidak menjawab pertanyaan kawan saya tersebut, dan saya hanya berikan senyuman saja untuknya. Nah sekarang saya kan jawab, dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada si-penanya. Sebenarnya perkataan saya tidak ada yang istimewa, mungkin keadaan yang membuat kawan saya merasa senang dengan perkataan saya. Saya bukan ahli sastra, bahkan belajar sastra pun tidak. Saya hanya menulis karena saya ingin menulis, seperti kata Guru BK saya Alm. Bapak Munawar, “Bila engkau ada masalah maka tulislah dengan penamu. Itu kan mengurangi rasa sakitmu.” Baca lebih lanjut

Opening Kacamatahan

Selamat Datang di Kacamata Han.

Ini merupakan postingan pertama saya…

Kacamatahan, sengaja saya pilih nama ini karena sudah lebih 10 tahun saya tidak bisa terlepas darinya. Sekarang mata saya sudah minus 4, entah untuk kedepannya bertambah atau bisa berkurang.Mungkin ada beberapa orang yang merasa terganggu dengan keterbatasan ini, tetapi Alhamdulillah saya tidak. Saya bersyukur karena masih diberi minus 4, mungkin dibawah langit yang sama ini masih ada orang yang tidak seberuntung saya.

Di Blog ini berisi coretan seorang Han, Nah jika Anda ingin melihat KacamataHan versi exclusive ada baiknya Anda mengunjungi Blog KacamataHan.com

Salam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.